LITERASI KELUARGA PENYANDANG AUTISME

Level beban yang harus di terima keluarga dengan penyandang autisme sangatlah besar. Ada segunung masalah di hadapan mereka terkait dalam pendampingan dan pengasuhan salah satu anggota keluarganya yang menyandang autisme

keterbatasan tenaga profesional dalam penanganan autisme menjadi kendala utama penanganan autisme di Indonesia. ketimpangan penanganan autisme antar daerah-daerah di Indonesia yang belum merata, keterbatasan tenaga ahli yang mampu memberikan penanganan autisme, sehinga menyebabkan berbagai masalah multidimensi dalam keluarga penyandang autisme dan juga lingkungannya. stigma dan juga isolasi sosial bagi penyandang autsme dan keluarganya juga menambahkan beban yang harus dihadapi keluarga dengan jenyandang autisme

dengan adanya keterbatasan pelayanan dari tenaga profesional bagi penyandang autisme di beberapa daerah, dan juga untuk menerima layanan tersebut keluarga juga oeru merogoh kocek hingga celengen yang cukup dalam untuk mendapatkan layanan yang memadai. dan tidak semua dari keluarga penyandang autisme berada dalam taraf ekonomi yang tergolong mampu untuk membiayainya.

berbanding lurus dengan situasi tersebut, bagi keluarga yang memilki kondisi finansial yang cukup mapan pun akan mengalami kendala yang serupa namun tak sama. untuk itu selain mengandalkan keberadaan para profesional yang ahli dibidangnya, keluarga juga perlu bersinergi untuk mampu memahami dan menerapkan layanan yang diberikan tersebut di rumah.

sampai saat ini tidak ada dan belum ada materi formal yang mengajarkan mengenai bagaimana menjadi ayah, ibu dan saudara yang baik serta ideal bagi penyandang autisme, namun bukan berarti hal tersebut hal yang perlu di ratapi, namun perlu disikapi dengan bijak dan terencana.

menjadi keluarga yang literat, yang mampu memahami dan melakukan sesuatu dalam membantu meningkatkan kemampuan tumbuh kembang penyandang autisme adalah situasi ideal bagi keluarga penyandang autisme.

pada tahap awal ketika penyandang autism terdiagnosa diusia diatas 2 tahun, keluarga tersebut mampu bahu-membahu bersama para profesional dalam penerapan program dirumah, baik itu dalam penanganan biomedis maupun penganganan terapi yang berbasiskan rumah.

ketika berada pada usia sekolah, keluarga literat tersebut mampu untuk meningkatkan kemampuan akademik penyandang autisme yang berjalan beriringan dengan penanganan lain yang sudah berjalan.

diusia menjelang dan saat memasuki usia pubertas, mereka mampu untuk mengatasi kendala prilaku penyandang autisme yang mungkin mengalami peningkatan tantangan yang berbeda dari sebelumnya dihadapi

saat memasuki usia produktif keluarga sudah mampu menentukan arah serta bakat dan minat untuk dapat terus dikembangkan untuk mendukung bukan hanya pada area tumbuh kembang, namun juga kemandirian finansial penyandang autisme kelak kedepannya.

dan yang juga sangat penting, adalah bagaimana mengatasi sibling rivalry , yang mungkin terjadi dan dihadapi oleh anggota keluarga lain dalam rumah. karena tanpa bantuan mereka goal-goal yang ingin dicapai dalam lingkungan keluarga akan sulit dilakukan. namun dengan kerjasama sibling akan sangat mempermudah keluarga untuk dapat meraih tujuan tersebut.

menjadi seorang ayah, ibu dan kakak atau adik yang terliterat dari penyandang autisme merupakan keberkahan bagi mereka yang memilikinya karena kekayaan akan ilmu, kesabaran, dan kerjasama diantaranya merupakan sesuatu yang tidak dapat diukur dengan materi yang sebesar apapun. semoga doa dan harapan mereka yang memiliki keberkahan atas amanah ini menjadikan mereka seseorang yang lebih baik di hadapan sang Khalik saat ini dan nanti ketika kita semua akan kembali kepada-Nya.

 

Narasumber: Taufiq Hidayat
Pegiat dan Praktisi (OT) Autisme.